Berkunjung ke Museum Cokelat Monggo, Wisata Kuliner dan Edukasi di Jogja

Ide Wisata131 Dilihat


Jogja merupakan rumah bagi berbagai destinasi wisata yang mendidik dan memberikan pengalaman unik, termasuk pengalaman kuliner. Museum Cokelat Mongo merupakan salah satu contoh wisata kuliner yang memadukan edukasi dan pengalaman.

Terletak di Jalan Tugu Gentong, Sribitan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, museum ini tidak hanya menjadi pusat informasi tetapi juga tempat produksi coklat terkenal Jogja, Coklat Monggo.

Museum Cokelat Mongo merupakan tempat yang populer terutama di kalangan anak sekolah yang ingin mempelajari proses pembuatan coklat.

Museum ini menonjol dengan arsitektur khas Jawa, Rumah Joglo, dilengkapi dengan musik gamelan yang menciptakan suasana tenang dan menyenangkan.

Di dalam museum, pengunjung akan menemukan berbagai unsur budaya Jawa, seperti ilustrasi wayang dan kain batik, menghiasi sudut-sudut toko dan museum.

Sejarah terciptanya coklat Monggo

Museum Cokelat Mongo
Foto: Museum Pabrik Coklat Mongo di Google Maps

Chocolate Monggo, merek coklat terkemuka di Indonesia, didirikan oleh Thierry Detournay, warga negara Belgia, pada tahun 2001. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas coklat lokal di Indonesia.

Periklanan. Gulir untuk melanjutkan membaca.

Thierry merasa berbeda dengan coklat asli yang biasa ia nikmati di negara asalnya, Belgia. Thierry bertekad untuk menciptakan coklat dengan rasa otentik.

Thierry mulai bereksperimen memproduksi coklat dalam skala kecil dan akhirnya mendirikan Chocolate Monggo pada tahun 2005.

Alasan lain dibuatnya tempat ini adalah memanfaatkan buah kakao berkualitas yang banyak tumbuh di Indonesia dengan menerapkan teknik pembuatan coklat Eropa.

Ia mulai menjual coklatnya, termasuk truffle dan coklat tradisional, saat bepergian dengan Vespa merah muda.

Strategi pemasaran unik ini diterapkan di pasar SunMor dekat UGM dan Gereja Kotabaru, dengan produk coklat terlaris saat itu adalah kulit coklat dan mania kakao.

Setelah sukses menjual Vespa pada tahun 2005, Thierry membuka toko pertamanya di Cotagede pada tahun 2010, di mana tim tersebut berkembang menjadi sekitar 80 orang dan memproduksi 150kg coklat sehari.

Baca Juga  Pantai Nunggalan, Pesona Pantai Pasir Putih Eksotis di Badung Bali

Pada tahun 2015, Cokelat Monggo melakukan ekspansi dengan membuka empat cabang, menambah jumlah karyawan dan produksi coklat.

Konsepnya adalah budaya Belgia-Jawa.

Thierry, pendiri Chocolate Monggo, dikenal karena kecintaannya terhadap budaya Jawa. Hal ini terlihat dari nama produk “mongo” yang berarti “tolong” dalam bahasa Jawa.

Thierry terinspirasi menggunakan nama tersebut saat pertama kali tiba di Jogja, dimana ia disambut hangat oleh penduduk setempat yang kerap menyebut “mongo” kepadanya.

Selain itu, istri Thierry adalah orang Jawa, yang semakin mendukung keputusannya untuk memasukkan dan melestarikan unsur budaya Jawa dalam produk coklatnya.

Oleh karena itu, mulai dari bangunan hingga dekorasinya, semuanya tetap bergaya Jawa, termasuk ukirannya.

Simbol ibu jari yang digunakan oleh Cokelat Monggo tidak hanya melambangkan kata “monggo”, tetapi juga merupakan simbol optimisme yang menandakan harapan bahwa bisnis coklat perusahaan ini akan terus berkembang dan sukses.

Museum Cokelat Mongo

Museum Cokelat Mongo di Bantul
Foto oleh Jemmy Petta di Google Maps

Museum Cokelat Mongo yang didirikan pada tahun 2017 merupakan inisiatif Thierry untuk tidak hanya menjual cokelat, namun juga mengedukasi masyarakat khususnya Yogyakarta tentang cokelat.

Museum ini didirikan untuk memberikan informasi tentang sejarah coklat, pergerakannya ke Eropa, proses pengolahan coklat, dan cara pembuatan coklat, termasuk pabriknya sendiri.

Museum ini menyajikan berbagai aspek mulai dari sejarah coklat, cara bercocok tanam kakao, sejarah coklat Mongo hingga proses pembuatan produknya.

Museum di Jogja ini buka dari hari Senin hingga Kamis pukul 09.00 hingga 17.00 WIB dan Jumat hingga Minggu pukul 09.00 hingga 18.00 WIB. Pengunjung juga dapat mencoba pengalaman memahat coklat mereka sendiri.

Biaya masuk Museum dan Pabrik Coklat Mongo sebesar Rp 40.000 dan biaya pencetakan coklat sebesar Rp 15.000.

Baca Juga  Desa Wisata Penglipuran, Menjelajahi Keindahan Desa Terbersih Dunia di Bangli

Selain berkeliling museum dan pabrik, pengunjung dapat membeli oleh-oleh di toko Cokelat Monggo dan menikmati waktu di toko yang menyajikan es krim dalam berbagai rasa, cocok untuk cuaca panas di Chokya.

Produk coklat Mongo

Cokelat Monggo berbeda dengan coklat jenis lainnya karena komposisinya yang unik, yaitu menggunakan 100% coklat murni. Produk mereka antara lain coklat putih (33%), coklat susu (41%) dan coklat hitam (77%) dengan bahan-bahan alami seperti mentega kakao dan cairan kakao.

Semua topping, termasuk kacang-kacangan, permen, dan potongan buah-buahan, dibuat sendiri, termasuk kue kering. Cokelat Monggo terus menjaga kualitas dan cita rasa produknya dengan menawarkan lebih dari 40 varian rasa coklat.

Produk terlaris mereka meliputi varietas kacang mete, praline, dan hazelnut, serta beberapa pilihan unik seperti jahe, cabai, dan rendang.

Pendirian di Jogja ini berbeda dengan menggunakan 100% kakao mentega, menjaga konsistensi rasa, warna dan kemasan produk, serta terus berinovasi dengan menciptakan produk baru.

Di pasar offline, konsumen cenderung memilih coklat dengan kandungan gula lebih tinggi, sedangkan di pasar online konsumen cenderung memilih coklat hitam yang lebih sehat.

Produk coklat Monggo dijual dengan harga antara Rp 25.000 hingga Rp 200.000, tergantung ukuran dan variannya. Pengunjung juga dapat mencicipi coklat berdasarkan kandungan pahit manisnya, mulai dari 58%, 69% hingga 77%, untuk membantu memandu keputusan pembelian mereka.

Inilah banyak hal menarik tentang Museum Cokelat Mongo. Kami harap informasi ini bermanfaat bagi Anda dalam mencari destinasi wisata unik di Yogyakarta. Semoga liburanmu menyenangkan!q


databaru.my.id