Megahnya Masjid Tiban di Malang, Dibangun Tanpa Arahan Arsitek

Ide Wisata22 Dilihat


Masjid Tiban merupakan salah satu landmark keagamaan di Indonesia. Malang, Jawa Timur, menarik perhatian wisatawan. Masjid megah dan indah mirip kastil ini dihiasi kubah berwarna biru putih yang rupanya dibangun tanpa instruksi arsitek.

Harga tiket: Gratis, Jam kerja: 24 jam Alamat: Jl. KH. Wahid Hasim, Sananredho, Dist. Turen, Kota Malang, Jawa Timur; Map: Periksa lokasi

Kehadiran Masjid Tiban sangat penting bagi warga sekitar. Hal ini tercermin dari banyaknya usaha kecil yang beroperasi karena padatnya wisatawan. Salah satu contohnya adalah parkir. Anda tidak perlu malu jika tidak mempunyai lahan yang cukup untuk memarkir mobil di halaman Pondok Pesantren.

Terdapat jalan setapak sepanjang sekitar 100 meter yang menghubungkan Masjid Tiban dan jalan utama Malang. Berbeda dengan kemegahan bangunannya, alun-alun ini justru terlihat ramai. Bermacam-macam suvenir berbaris dari pintu masuk gang hingga pendekatan gerbang utama.

Harap diperhatikan: Anda harus melepas sepatu saat memasuki masjid. Oleh karena itu, siapkan cling film di rumah agar sandal atau sepatu Anda tidak hilang. Namun jika tidak ingin membawa sendiri, ada penjual bungkus plastik di halaman masjid. Harganya sekitar 500 rupee.

➥ Cek promosi hotel di Malang

Fakta dan Sejarah Masjid Tiban Malang

Fakta Shutterstock dan Sejarah Masjid Tiban Malang
Foto oleh Sn Alfiya di Shutterstock

1. Berawal dari pesantren.

Masjid Tiban pada awalnya merupakan sebuah pesantren di bawah pimpinan ayah Kiai Ahmad. Nama lengkap Pondok Pesantren Salafiya adalah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah atau Bi Baa Fadlra. Penduduk setempat menyebutnya demikian karena mereka percaya bahwa bangunan ini runtuh atau muncul secara tiba-tiba berkat kekuatan jin.

Periklanan. Gulir untuk melanjutkan membaca.

Tiban artinya jatuh dalam bahasa Jawa. Namun pihak manajemen pesantren membantah rumor tersebut. Apalagi masjid ini bukan objek wisata. Tujuan pembangunannya bukan menyasar sektor ini. Namun kemegahan arsitektur dan mitos-mitos yang menyertainya rupanya berhasil menggugah rasa penasaran.

➥ Tamasya matahari terbit ke Bromo, desa penuh warna dan surga malam Malang

Mau tak mau orang-orang berlomba-lomba datang ke sini. Pengunjung ke sini selalu ramai setiap harinya, apalagi saat hari libur. Mau tidak mau, manajemen membuka akses kepada masyarakat luas. Seiring berjalannya waktu, Masjid Tiban telah banyak mengalami rekonstruksi.

2. Hasil kerjasama Santry dengan warga sekitar

Ternyata arsitek profesional tidak terlibat dalam pembangunan masjid tersebut. Proses ini mengikuti petunjuk ayah Kiai Ahmad selaku pemilik pesantren. Ia menyampaikan kepada para santri inspirasi yang didapat saat shalat Istikharah. Selanjutnya siswa melakukan teknis pelaksanaan.

Pekerja utama dalam pembangunan tersebut adalah santri Pondok Salafiya. Kalaupun ada tambahan staf, biasanya warga sekitar juga yang diundang. Dengan kata lain Masjid Tiban didirikan oleh manusia. Fakta ini sekaligus membantah rumor tentang perbuatan jin.

Baca Juga  Lembang Wonderland, Destinasi Wisata Hits Bertema Negeri Dongeng di Bandung

Menariknya, ayah Kiai Ahmad belum pernah ke luar negeri kecuali saat menunaikan ibadah haji. Ia mengarahkan hanya berdasarkan inspirasi pribadi, yang kemudian diterjemahkan oleh para siswa. Tak heran jika gaya arsitektur masjid ini memadukan berbagai konsep budaya. Mungkin ketiadaan aliran desain yang khas itulah yang menjadi poin utama yang menarik perhatian.

3. Dirancang untuk pembelajaran dan konseling Alquran.

Masjid Tiban sebenarnya merupakan rumah ayah Kiai Ahmad pada tahun 1963. Ia dikenal sebagai ulama sehingga memicu inisiatif warga sekitar untuk meminta diajari mengaji. Rumah semakin dipenuhi pengunjung. Hingga akhirnya pada tahun 1976 dibuka sebagai pesantren.

Seiring berjalannya waktu, rumah ini direnovasi secara bertahap oleh pemiliknya. Nantinya akan digunakan sebagai asrama mahasiswa. Saat itu bentuk dan bahan bangunannya masih sederhana. Hal ini merupakan suatu keadaan yang wajar, mengingat dahulu pemuasan kebutuhan hidup masih terbatas. Itu dihentikan pada tahun 1994 dan dilanjutkan kembali setelah tahun 1998.

Keputusan ini diambil berdasarkan niat untuk membantu mengatasi krisis mata uang yang sedang berkecamuk saat itu. Tentu saja, pemerintah daerah secara bertahap memperhatikan hal ini. Padahal, proses pengurusan izin mendirikan bangunan dipermudah.

Yang jelas masjid ini dibangun untuk memfasilitasi pembelajaran membaca Al-Qur’an sekaligus penyuluhan terhadap permasalahan. Romo Kiai Ahmad aktif membantu mencari solusi permasalahan yang dihadapi para santri. Menurut Kisyanto, salah satu pengurus masjid, ia akan melakukan istikharah jika ada yang mengeluh.

➥ Tour Sunrise Murah 2 Hari 1 Malam ke Bromo dan Kota Malang

Keunikan dan Daya Tarik Masjid Tiban

Shutterstock Keunikan dan Daya Tarik Masjid Tiban
Foto oleh Nizar Kauzar di Shutterstock

Memiliki fasilitas kelas satu

Masjid Tiban tidak hanya menawarkan perpaduan arsitektur sari dari berbagai penjuru tanah air, namun juga dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Gedung 10 lantai ini memiliki kegunaan yang berbeda-beda di setiap lantainya. Mungkin inilah sebabnya pengunjung betah berlama-lama di sini.

Semua kebutuhan pengunjung diperhitungkan. Bahkan, bagi Anda yang kurang mampu melakukan penjelajahan secara manual, disediakan lift sebagai alternatif mobilitas. Ada banyak hal di lantai 1 bintik-bintik digunakan sebagai area relaksasi pengunjung. Sekitar 20 meter dari pintu masuk di belakang terdapat kolam renang dengan air mancur.

Kolam ini dilengkapi dengan lantai yang bersih dan sering digunakan sebagai leishan. Ikan-ikan cantik hidup di dalamnya. Tanaman yang memanjat dinding batu juga tumbuh di dekatnya. Saat Anda melihat ke atas, Anda akan disambut oleh hamparan langit. Semilir angin berpadu dengan sejuknya ubin masjid membuat orang tertidur.

Saat Anda berpindah ke lantai 2 dan 3, Anda akan ditemani oleh serangkaian akuarium. Pihak pengelola sebenarnya menyediakan kawasan lindung di sini. Mulai dari ikan kecil hingga seukuran tangan orang dewasa. Berbagai jenis ikan terlihat berwarna-warni.

Baca Juga  Alun-Alun Kota Malang, Tempat Rekreasi Favorit untuk Liburan Keluarga

Selanjutnya lanjutkan ke lantai 4, tempat tinggal para penjaga cottage. Namun seringkali dijadikan tempat pernikahan. Lantai lima sering digunakan sebagai mimbar saat hari raya. Jika Anda merasa kesulitan untuk bereksplorasi sendiri, ada siswa yang bersedia membimbing Anda.

Apakah kamu lelah dan lapar? Silakan pergi ke lantai 8. Anda bisa membeli makanan di beberapa warung dan kafetaria. Ingin berbelanja? Turun lagi ke lantai 7, sudah ada pusat perbelanjaan. Lantai enam berfungsi sebagai asrama mahasiswa. Jumlah santri di pesantren ini mencapai 350 orang.

Selain itu, mushola terletak di beberapa lantai. Ada banyak toilet. Masjid Tiban juga memiliki pos penjagaan berbentuk candi. Ada juga konter. Anda dapat yakin bahwa produk Anda aman. Banyak pepohonan rindang memenuhi halaman dari berbagai sisi. Seketika menciptakan suasana sejuk dan menenangkan.

Kebun Binatang Mini

Kebun binatang mini ini terletak di lantai 3, tempat dipelihara dan hidup berdampingan dengan berbagai hewan jinak dan hidup berdampingan dengan manusia. Ayam, burung beo, monyet, landak dan rusa. Fakta lainnya, di Pondok Pesantren Salafiya praktis tidak ada kegiatan penebangan pohon. Biasanya, siswa hanya memindahkan pohon jika dirasa ceroboh.

Keadaan ini merupakan wujud implementasi nilai-nilai ajaran Islam. Santri terbiasa mewujudkan kerukunan. Semua makhluk pada dasarnya berasal dari Tuhan, sehingga harus ada sinergi dan kedamaian.

Miniatur lereng gunung dan gua di atas bangunan

Selain itu, yang tidak kalah uniknya adalah dengan adanya miniatur lereng gunung dan gua pada bangunan ini. Setelah lelah mengunjungi lantai 1 hingga 8, saatnya bersantai di lantai atas. Saat naik ke lantai 9, pengunjung akan menemukan ruang yang dirancang sedemikian rupa sehingga seolah-olah menggambarkan sisi gunung.

Ada juga kebun binatang mini di lantai yang sama. Pindah ke tingkat tertinggi, kini puncak gunung dan gua menjadi lebih menyenangkan. Tidak sampai disitu saja, Anda bisa melihat ke bawah untuk melihat pemandangan. Terdapat pagar untuk melindungi pengunjung.

Berada di alam terbuka dengan angin yang menerpa wajah akan memberi Anda rasa kebebasan. Langit tampak tepat di atas kepalaku. Direkomendasikan untuk dikunjungi saat musim kemarau. Dengan demikian, lanskap yang diusulkan menjadi jauh lebih indah. Anda juga berkesempatan melihat fenomena matahari terbit dan terbenam.

Jika memungkinkan, Anda bahkan mungkin bisa melihat bintang di malam hari. Pasalnya Masjid Tiba buka 24 jam sehari. Pengunjung bisa datang kapan saja. Agar lebih mudah, tidak ada salahnya mencari akomodasi terdekat.

Alamat, lokasi, rute dan biaya masuk

Shutterstock Alamat Masjid Tiban Malang
Foto oleh Nizar Kauzar di Shutterstock

Ada banyak rute yang bisa Anda tempuh untuk mencapai Masjid Tiban. Aksesnya cukup mudah, meski kondisi jalan di beberapa tempat kurang bagus. Jika Anda mencapai pusat kota Malang, setidaknya dibutuhkan waktu 45 menit dengan menggunakan sepeda motor. Berbagai kelokan akan anda lewati hingga sampai di kawasan Touraine, Kabupaten Malang.]

Baca Juga  Kebun Teh Wonosari, Objek Wisata Alam Hits & Sarana Edukasi di Malang

Terletak di desa Sananredho, Anda juga dapat memanfaatkan transportasi umum. Gunakan angkutan umum kode AG jika berangkat dari Terminal Arjosari, dan LG menuju Terminal Landungsari. Tujuan Anda adalah Terminal Hamid Rusdi. Sesampainya di sana, turun dan cari bus jurusan Malang-Turen-Dampit.

Setelah ini, minta pengemudi untuk berhenti di area Touraine. Usahakan dekat dengan pangkalan ojek. Kemudian terus menuju Jalan KH. Vahid Hasim, Gang Anggur. Hal ini bisa Anda sampaikan kepada para tukang ojek. Jika Anda ragu untuk menggunakan layanan ojek reguler, Anda bisa menggunakan aplikasinya. seluler.

Perkiraan biaya angkutan umum minimal Rp 30.000. Pasalnya, rata-rata biaya sewa angkutan umum di Malang berkisar Rp 5.000. Sedangkan untuk ojek reguler, harganya bisa dinegosiasikan.

Sebaliknya, selain uang bensin, Anda hanya perlu membayar parkir sebesar Rp 2000-5000 jika menggunakan kendaraan pribadi. Tidak ada biaya masuk ke Masjid Tiban. Namun pihak pengelola menyediakan tempat jika ingin bersedekah.

Desain bangunan Masjid Tiban Malang

Shutterstock Proyek Pembangunan Masjid Tiban Malang
Foto oleh Nizar Kauzar di Shutterstock

Saat pertama kali memasuki halaman Masjid Tiban, Anda akan melihat tiga gerbang besar. Gerbang ini menghubungkan bagian dalam gedung, kompleks pesantren, dan tempat parkir.. Dari jarak 100 meter Anda bisa melihat perpaduan gaya arsitektur megah dan unik.

Mewakili budaya Asia, Timur Tengah dan Eropa dalam satu gedung. Desain eksteriornya didominasi warna putih dan biru tua. Sedangkan interiornya serba kuning keemasan. Di sebelah kiri pintu masuk terdapat studio foto mini. Sekitar 1 meter ke depan, guci-guci kuno berisi pecahan batu berjejer rapi.

Di sisi kanan Anda akan menemukan deretan akuarium dan sebuah pintu. Pintu ini mengarah ke lantai dua, di mana terdapat lebih banyak akuarium. Langit-langitnya dihiasi lampu gantung, dindingnya dilapisi ukiran rumit. Kolom yang kuat menopang bangunan. Dilengkapi dengan beberapa vas tinggi yang terlihat gagah.

Ini bukan tempat belajar dan beribadah, melainkan istana. Tulisan dan kaligrafi Asmaul Husna semakin menghiasi potret Masjid Tiban. Gedung 10 lantai yang setiap lantainya mempunyai fungsi masing-masing. Mengisi 18,75% dari total luas kompleks 8 hektar. Seolah belum cukup, berbagai fitur juga didukung.

Sungguh menarik bukan? Anda berkesempatan merasakan sensasi berbeda saat berkunjung ke sini. Pantas saja Masjid Tiban dimasukkan ke dalam daftar wisata religi. Benda ini bisa menghiasi momen liburan anda. Boleh dikatakan tak hanya arsitektur dan kisah mistisnya saja, ikon-ikon yang ditonjolkan pun merupakan paket lengkap.


databaru.my.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *